Romansa Nostalgia di Stasiun Beos - Warga Jakarta mana yang tak mengenal Stasiun Beos? Stasiun bersejarah yang terletak di Kawasan Kota Tua ini memiliki kisah dan nilai historis yang tinggi.
Suasana riuh dan bising mewarnai Stasiun Jakarta Kota. Ratusan penumpang hilir-mudik, sebagian memadati beberapa peron menunggu kereta tiba. Lengkingan pluit dan deru kereta bersahutan dengan bunyi pengeras suara yang menginformasikan jadwal keberangkatan kereta. Siapa menyangka bahwa stasiun tersibuk di Jakarta ini dulu begitu sunyi?
Jika Anda mengunjungi stasiun yang terletak di Kawasan Kota Tua ini, Anda akan melihat kedigdayaan arsitektur Eropa pada bangunan gaya art deco yang sederhana. Kubah besar yang tinggi yang menjulang yang menjadi ikon stasiun ini masih berdiri kokoh menyambut setiap orang yang datang. Di usianya yangmenginjak 87 tahun, Stasiun Jakarta Kota tetap memancarkan nostalgia di tengah kesibukan melayani ratusan penumpang setiap hari.
Stasiun yang dibangun pada tahun 1926 oleh Perusahaan Kereta Api Staadspoorwagen milik Pemerintah Hindia Belanda ini merupakan mahakarya tim arsitektur ternama pada masanya, yakni Algemeen Ingenieur Architenbureau. Sementara itu perencanaan desain arsitektur bangunan dibuat oleh tim arsitektur pimpinan Ir. FJL Ghijsels dibantu rekan-rekannya sesama arsitek. Karya Ghijsels lainnya adalah RS Pelni Petamburan, RS Panti Rapih Yogyakarta, Gereja Katolik ST.Joseph di Mataram dan banyak lagi.
Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, stasiun ini juga dikenal dengan sebutan Stasiun Beos yang merupakan kependekan dari Batavia En Omstreken. Yang artinya Batavia dan Kawasan Sekitarnya. Ini karena stasiun tersebut merupakan marka penghubung antara Batavia dengan kawasan lain seperti Bogor, Bekasi, Krawang, Sukabumi dan Bandung.
Awalnya, cikal bakal stasiun kereta api terbesar di Indonesia ini adalah stasiun kecil yang dibangun sekitar tahun1870 di Batavia, tepatnya di lokasi yang saat ini menjadi kantor BNI 46. Lantas, pada tahun 1926 dilakukan renovasi besar-besaran yang baru selesai tiga tahun kemudian. Tepat pada tanggal 8 Oktober 1929, stasiun ini diresmikan oleh Gubernur Jendral Jhr A.C.D. de Graef.
Sejarah perkeretaapian di Indonesia memiliki nilai historis tersendiri yang sangat berarti bagi perjalanan bangsa ini, karena pembangunan stasiun pada masa itu sekaligus membentuk pertumbuhan kota-kota yang dilintasinya. Terbukti sampai saat ini hampir semua stasiun kereta api berada di tengah kota, dan tercapailah aktivitas ekonomi sosial dan budaya. Selain itu, bangunan arsitekturnya juga menjadi landmark kota.
Dan yang lebih hebatnya lagi, kendati berbagai perubahan tampak di sana-sini, arsitektur gedung utama tetap tak tersentuh perubahan zaman. Bangunan Stasiun Jakarta Kota dibiarkan tetap seperti saat pertama kali berdiri.

No comments:
Post a Comment