Pengeroposan tulang - Waspadai! Keropos Tulang tak Bergejalah. Satu dari dua wanita akan mengalami keropos tulang setelah usia 50 tahun. Namun seperti yang diungkapkan dr. Ethel Siris, Kepala Toni Stabile Osteoporosis Center di Columbia University Medical Center, masih banyak yang belum memahami pentingnya memperhatikan kondisi tulang. "Keretakan tulang di usia lanjut bisa berakibat fatal," kata dr. Ethel. "Jika Anda mengalami keretakan panggul di usia 80, hidup Anda bisa berakhir pada saat itu."
Faktanya, risiko meninggal dunia dalam waktu satu tahun setelah keretakan panggul meningkat besar empat kali lipat. Sekitar 7 persen wanita yang sudah melewati masa menopause akan mengalami keretakan panggul, yang lantas bisa mengakibatkan rasa terisolasi dan depresi. Banyak orang yang lanjut usia diprediksikan mengalami keretakan panggul dan membutuhkan pendampingan khusus.
Keretakan yang diakibatkan oleh keropos tulang ini tak hanya menjadi masalah di Barat, tetapi juga di Indonesia. Prof. Dr. dr. H. Ichramsjah Azim Rachman, SpOG(K), CCD, Guru Besar Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM, mengungkapkan bahaya keropos tulang atau ostoeporosis. Mengapa bahaya? Kondisi ini tidak memicu keluhan, dan WHO menyatakan bahwa penyakit tanpa keluhan akan sulit atau mustahil diobati. Karena tidak bergejala ini pula, tulang bisa tiba-tiba retak atau patah tanpa peringatan terlebih dahulu.
"Jika tulang sudah patah, mobilitas jelas terganggu. Belum lagi kemandirian Anda akan hilang dan Anda harus bergantung pada alat atau orang lain," ungkap Prof. Ichramsjah kepada salah satu media.
Tulang kita bisa keropos karena kadar hormon estrogen dan asupan kalsium yang rendah. Oleh sebab itu, osteoporosis banyak terjadi pada wanita yang mulai memasuki masa menopause. Tulang dibentuk oleh estrogen. Saat usia lanjut, zat pembentukan tulang dihancurkan. Nah, jika tingkat estrogen pada wanita tersebut rendah, maka proses pembuatan tulang tidak akan berlangsung dengan baik . Ketika kita masih muda, tulang yang rusak bisa dibentuk lagi dengan hasil sempurna. Namun pada saat kita sudah tua, proses pembentukan tulang tidak lagi sempurna karena estrogen sudah berkurang.
Penghancuran tulang berlangsung selama tiga minggu, sementara pembentukan tulang membutuhkan waktu tiga bulan. Ini pun sangat bergantung pada estrogen. Jika kadar estrogen bagus, hasil pembentukan tulang akan bagus. Sebaliknya, kalau estrogennya turun atau berkurang, pembentukan tulang tidak akan bagus, akibatnya tulang semakin keropos. Meski belum ada data akurat, Prof. Ichramsjah mengungkapkan bahwa sebagian besar wanita Indonesia mengalami keropos tulang karena asupan kalsium kita masih rendah.

No comments:
Post a Comment